Patok
Friday, August 28, 2009
Tempat ini seperti berdiri sendiri ditengah semua hal yang tengah berlari. Terpaku bagai patok ukur waktu. Kini aku berada di patok itu. Mengukur diriku. Menimbang perubahan jasmaniku, meneraca naik turunnya moralku. Kuhakimi diriku.
Aku ternyata masihlah sepatok itu.
Masih mengais diantara kelimpahan ridho dan berkah ramadhan
Masih meletakkan duniawiku diantara kepala dan peciku
Masih meributkan perutku diantara tubuh dan sarungku
Aku masihlah sama seperti dulu
Jika demikian untuk apa kulakukan persinggahan disini setiap Ramadhan
Aku merenung
Aku menyesali kesia-siaan persinggahanku selama ini
Yang sekedar lalu
Yang tak membekas
......
Aku melangkah ke dalam musholla
Masih ada 30 hari lagi
Kuyakini kali ini tak lagi ada kesiaaan
Kuyakini ... Patok itu akan kulampaui nanti.
Labels: Ceritaku
posted by Sam @ 8/28/2009 02:37:00 PM -
1 comments
links to this post
![]()
![]()
Aku “Dipaku Priaku” Mengucap
Monday, November 17, 2008
By Be Samyono (17112008-09.30)
Hanya terinspirasi begitu saat aku menuliskan fiksi “Dipaku Priaku”. Inspirasi dari beberapa teman dengan pengalaman serupa dan terispirasi dari rekan yang terlepas pasungnya. Sebaris email minggu aku terima dari seorang diantara mereka. Dari seorang AKU “DIPAKU PRIAKU” yang berucap:
Hai Sahabatku yang Memahami Hatiku….
Setelah sekian lama, akhirnya kau berbagi tentang “Cerita” ini, aku baru membacanya tadi pagi, begitu aku mengaktifkan laptop di atas meja kerja kantorku yang baru, tepatnya baru seminggu. Aku mendapat pesan offline-mu dan kamu ingin memastikan aku baik baik saja, sejak aku mencabut paku di hatiku di awal Ramadhan lalu.
Ya, Alhamdulillah, dukungan dari sahabat-sahabat baikku dan termasuk kamu membuat aku merasa sangat mudah menjalani semua ini. Ramadhan kali ini, adalah awal semua niatan dalam doaku, ketika aku memanjatkan harapanku kepada Yang Maha Penentu, semua hal menjadi mudah.
Idul Fitri 1429 H adalah awal hidup baruku, Aku melepaskan paku-paku yang menancap pada sisi emosional dan psikologisku, Aku merasa lega, bahwa semua itu berjalan dengan sangat baik. Pada kesempatan yang sama, Aku mendapat deal baru, sebuah kesempatan karir yang bagus. Dengan membawa diri dengan image dan penampilan yang baru.
Aku memulai sebagian besar hidupku di lingkungan baru. Sehingga aku bertemu dengan orang-orang baru. Dan berkesempatan menanam benih hubungan pertemanan yang baru. Walau pun terlalu awal untuk disampaikan, Semoga berbuah hubungan istimewa yang baru. Hubungan yang baik dan sehat. Hubungan yang penuh penghormatan dan perhargaan, yang mempersilakan aku mampir di beranda rumahnya, yang mengajakku melihat-lihat foto keluarga dan bercerita di ruang tamu, dan dengan suka hati menawarkan nonton tv bersama di ruang tengah sembari bergurau dan menikmati teh hangat. Dan kelak suatu hari berbagi mimpi-mimpi indah ketika bangun di pagi hari.
Sahabatku,
Engkau tak perlu mengkhawatirkanku, bahkan aku yang kini telah menjadi aku yang baru…. Dan segalanya telah berjalan dengan baik, sebuah doa yang dikabulkan oleh Yang Maha Kasih dan Sayang, lebih dari yang aku harapkan.
Jakarta, 13 Nov 2008. 09.52.
Salam,
Aku.
Labels: Ceritaku
posted by Sam @ 11/17/2008 09:41:00 AM -
9 comments
links to this post
![]()
![]()
“Ramuan Jomblo” Buku Hajatankoe #4
Thursday, October 30, 2008
Satu syukur buku hajatanku yang ke 4 bersama 14 penulis lainnya yang digawangi Blogfam (www.blogfam.com) dan penerbit Gradien telah berada di beberapa toko buku termasuk Gramedia. Buku cerita bergenre komedi ini mengadopsi kesuksesan buku cerita komedi yang terbit sebelumnya “Makan Tuh Cinta” yang masuk dalam jajaran best seller. Dengan cerita yang lebih segar dan menggelitik sekaligus satu keistimewaan karena memiliki 2 judul di cover depan dan belakangnya, buku cerita komedi ini memiliki harapan besar untuk mencetak sukses seperti pendahulunya. Berarti pula disisi lain, saya pribadi menorehkan perpanjangan rekor untuk belum “berani” menerbitkan buku atas label nama saya sendiri dengan alasan klise “sibuk”. Tahun kedepan saya berharap besar untuk bisa mematahkan rekor yang tidak bisa dibanggakan ini. Dan berikut sekelumit kontribusi saya dalam hajatan ini:

Makhluk itu berjalan di depan Syl. Menebar rasa penasaran dan geli orang–orang di depan Pasar Festival Kuningan yang melihatnya. Tak hanya mencolok namun juga “blink-blink” plus berselera katro padu padan bajunya. Syl berulangkali berusaha menghindar untuk jalan bersama. Ngeri membayangkan dirinya di tempeli label sama noraknya. Tapi tangan makhluk itu tak merelakan Syl lepas dari gandengannya. Syl terseret dan tak punya pilihan lain kecuali mengikuti. Dan cepat-cepat memasangkan kacamuka yang superlebar diwajahnya untuk menutupi malu. Malu karena sebenarnya dia kenal betul siapa makhluk itu.
“Elvy … Elvy!” Panggil Syl berbisik dan tertahan sembari menarik gandengan Elvy.
Makluk yang dipanggil namanya itu tak menggubris. Langkahnya makin asyik dan makin bergoyang mengikuti nada-nada riang dari I-Podnya. Bak selebritis Elvy menebarkan pesona sembari memasuki lobby.
“Elvy!” Panggilan ulang Syl makin kencang. Cubitan dipinggang Elvy-pun dilayangkan.
“Auw … Syl, apa-apaan sih!” Elvy meringis sejadinya, “Kagak bisa lihat orang seneng deh”
Syl yang kini ganti menyeret Elvy. Membawanya menjauh dari lobby.
“Nyadar dong Vy … nyebut,” Syl memuntahkan omelannya, tangannya melepas earphone di telinga Elvy.
“Ah … itu lagi itu lagi, boring tahu!” Elvy melengos memonyongkan bibirnya menirukan kata-kata Syl, “Vy … elo tuh nggak banget sekarang, Vy … elo tuh dah berubah, Vy … elo mesti sadar … ah udah deh Syl. Nggak perlu ngulang-ulang kata-kata itu. Nggak ada salahnya juga khan kalau gue memang berubah. Lagian perubahan ini khan demi …”
“Demi kucing garong itu khan!” sahut Syl cepat. Ketus. “Vy, gue nggak masalah bila perubahan ini atas mau elo. Tapi perubahan ini adalah pemaksaan. Pembunuhan karakter, pengebirian hak azazi ….!”
…….
www.promosi.com
Labels: Publikasi
posted by Sam @ 10/30/2008 12:10:00 PM -
7 comments
links to this post
![]()
![]()
Terpaku Pria-ku
Tuesday, September 02, 2008
By Be Samyono (02092008.10.30)
Ceritaku
Aku selalu berfikir benar. Atau lebih tepatnya membenarkan. Mengganggap tak salah dan layak saja bahwa Pria-ku berhak untuk memaku hatiku. Menancapkannya di dinding disamping rumah didekat teritisan. Dan bukan di rebahkan diperaduan dimana dia bisa berbagi mimpi indahnya denganku. Aku memaklumi. Karena hatiku belumnya mengantongi anggukan guna menjadi perempuanmu juga belum mendapat ijin guna menyematkan kata kekasih di dadaku.
Aku tak salah. Bila aku memanggulnya dalam prioritas tertinggi. Meski aku terlunta dengan keinginan akan pengakuannya tapi aku selalu merasa ini harga yang pantas untuk kudapat. Karena aku akui bahwa aku merasa menjadi diriku dengan cara ini. Mungkin ini hal bodoh. Tapi aku berjalan dengan prinsipku.
“Itu Prinsip bodoh!” Kata hatiku di satu hening.
“Bodoh?”
“Amat sangat bodoh!,” Kata itu menegaskan. “Tidakkah hatimu lapuk?”.
Aku terhenyak. Kusadari hatiku telah terpaku 3 tahun lalu. Ditempat sama, di dinding yang sama dan paku yang sama! Hatiku memang tidak lapuk. Tapi hasratku telah tercabik dan kelelahan. Beku mendingin terterpa musim yang terus berlari dan berganti. Tiga tahun hatiku tak pernah dia hadirkan diberanda rumahnya meski dia tahu hatiku berkeinginan untuk berteduh. Meski dia tahu hatiku tidak sekedar hati yang bisa kau ajak bersenang dan berbagi derita kala semua temanmu tiada.
Pria-ku aku ingin menikammu karena perlakuanmu. Tapi aku tak ingin berbuat salah dengan mengikuti pembenaranku. Benar … prinsipkulah yang bodoh. Bodoh untuk tidak segera menutup pintu yang tak pernah bisa mempersilahkanku masuk. Sementara banyak pintu diluar sana banyak yang mengharap ketukan tanganku!
Pria-ku aku akan mencabut hatiku dari dinding teritismu. Paku yang mengkaratkan hati kewanitaanku. Aku akan membawanya ditempat yang layak dimana hatiku bisa DICINTAI! Dimana tidak ada bayangmu MENGISI!
PS: Fiksi ini untuk sahabatku yang telah melepas
Rantai pasungnya .... kemarin!
Labels: Ceritaku
posted by Sam @ 9/02/2008 12:18:00 PM -
10 comments
links to this post
![]()
![]()
Merdeka ... ?
Tuesday, August 19, 2008
By Sam (19082008-16.03)Ceritaku
“Merdeka? Apa itu? ...” Sebuah Tanya menggantung semu.
“Bebas dari kemiskinan, dari ketidak adilan juga dari keterpurukan!” jawaban lain menimpali.
“Bebas menentukan nasib sendiri!”
“Bebas ... dari segalanya”
“Merdeka adalah berani, berani untuk mengikuti kata hati!” Sebuah suara lirih menyeru dengan kepastian.
Aku terhenyak. Memikir dan akhirnya mengamini.
Jawaban dengan pemikiran mendalam. Kemerdekaan yang tanpa batas bila kita mampu untuk bertindak berani dalam menuruti kata hati. Juga kemerdekaan yang luhur bila kata hati itu berpihak pada hati-hati yang diciderai.
Pandanganku buram.
Ternyata ....
Terlebih kata hati untuk negri.
Ternyata ....
Kemerdekaan ini masih semu...
Sesemu tanya yang dilontarkan.
Labels: Ceritaku
posted by Sam @ 8/19/2008 04:29:00 PM -
3 comments
links to this post
![]()
![]()
Azhar - Pengabdi Lingkungan Tanah Tsunami
Monday, March 17, 2008
Kegiatan saya sebagai kontributor Tulisan di Media WWF Salam masih berlanjut. Bahkan beberapa teman sebagai kontributor tetap sekarang memberikan kontribusi lebih sebagai pengasuh rubrik. Dan terbitan Salam kali ini bisa dilihat di sini. Kali ini saya mengangkat profil Pak Azhar – seorang pengabdi lingkungan dari aceh. Wawancara saya lakukan melalui Handphone disela kegiatan pak Azhar di satu siang di desanya. berikut petikannya yang saya sadur dari Buletin salam:
Azhar, "The Hidden Beauty"
Dari 12 orang pembawa obor olimpiade (torch bearer) di Jakarta tanggal 22 April 20078, terselip nama Azhar. Sosok pria setengah baya ini mungkin asing di telinga kalangan pemerhati lingkungan di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, namun ‘pahlawan’ bagi penduduk Desa Lam Ujong. Berangkat dari tekad kuat mengembalikan ‘kehijauan’ 30 ha kawasan di sekitar desanya yang hancur akibat tsunami, tanpa dinyana beliau telah membantu lebih dari 100 keluarga yang mata pencahariannya bergantung pada keberadaan bakau.
Kiprah Pak Azhar putra asli Aceh ini dimulai tidak lama setelah bencana terjadi. Keterbatasan dana dan bantuan tenaga ketika itu tidak mematahkan usaha Pak Azhar untuk menanam kembali bibit bakau yang beliau yakini dapat melindungi desanya dari gelombang, angin kencang, abrasi, dan mengembalikan udang, ikan dan kepiting. Ide dan tindakan yang semula dikatakan gila berubah menjadi satu harapan begitu Wetlands Internasional Indonesia Programme (WIIP) mendukung usaha ini melalui program “Green Coast”, program untuk memberdayakan ekonomi masyarakat setempat melalui penanaman bakau.

Suatu siang, SAlam menghubungi Pak Azhar lewat telepon yang disambut dengan derai tawa dan keramahan khasnya yang sederhana. Berikut hasil obrolan redaksi kami Be Samyono dengan Pak Azhar.
Selamat Pak Azhar atas terpilihnya Bapak sebagai salah satu pembawa obor Olimpiade!
Bagaimana awal mula “Green Coast Project” ini?
Bagaimana perkembangan proyek tersebut sekarang?
Apa harapan Bapak ke depannya bagi lingkungan NAD khususnya kawasan pesisir?
Azhar satu dari enam tokoh penggerak lingkungan yang dicalonkan WWF kepada Coca Cola sebagai pembawa obor olimpiade (torch bearer) di Jakarta pada Hari Bumi, 22 April 2008. Coca Cola, sebagai salah satu sponsor Olimpiade, mendapat kesempatan untuk memilih 6 torch bearer yang semuanya diberikan ke tokoh-tokoh lingkungan.
#########
Penanggung jawab: Mubariq Ahmad
Pemimpin Redaksi: Nazla Mariza;
Redaksi: Melur Pinilih, Be Samyono, Nur Anisah, Aji Kuspriyanto
Kontributor:Lona Desainer: Downey Ilustrator:R.Sugiri (08129681020)Ewin (0818198910) Alamat : Kantor Taman A9, Unit A-1 Kawasan Mega Kuningan Jakarta 12950 - Indonesia
Tel. +6221 576 1070 Fax. +6221 576 1080
Website: www.wwf.or.idwww.supporterwwf.org Email:support-wwf@wwf.or.id
Mailing List:supporter-wwf@yahoogroups.com
Labels: Publikasi
posted by Sam @ 3/17/2008 08:54:00 AM -
11 comments
links to this post
![]()
![]()
Makan Tuh Cinta!
Monday, March 03, 2008
By Be Samyono (03032008.12.46)Publikasi
Allhamdulillah, Telah terbit Buku komedi cinta bertajuk: MAKAN TUH CINTA, buku hajatan yang ke 3 yang saya tulis bersama 15 rekan dari Blogfam melalui ajang kompetisi dan seleksi. Berikut resensinya dan moga bisa menambah SENYUM dalam memaknai CINTA. Nuansa Humor dalam 15 Kisah Komedi Cinta. Di cerita ke 13 terdapat: EMILI - MAUDI O. MELLI - SURATI satu kisah satire saya mengenai seorang pria diantara 3 cinta wanita:
Resensi:
Barangkali humor bisa menjadi semacam oase yang menyejukkan di tengah krisis yang masih betah mendera Indonesia. Humor dikenal sebagai obat yang manjur untuk pengusir stres. Selain itu, humor adalah berkah terbesar bagi kemanusiaan, demikian ucap Mark Twain. Oase humor ini bisa kita lirik dari maraknya kehadiran buku-buku humor yang terus bermunculan. Selain muncul dalam media buku, tidak sedikit pula yang hadir di ruang maya, terutama dalam blog. Semisal, blogfam yang menjadi komunitas blog terbesar di Indonesia mencoba memilih 15 cerita komedi cinta terbaik. Lalu mereka menerbitkan dengan judul Makan Tuh Cinta! Makan Tuh Cinta! berisi lima belas cerita pendek bernuansa komedi. Ditulis dengan bahasa keseharian yang sederhana tapi mengena. Lewat gaya menulis yang nge-pop ini, lima belas penulis coba meramaikan khasanah humor dengan cara yang berbeda. Ya, semua bertema soal cinta.Cinta dan humor jika diramu bersama-sama akan memunculkan romantis kocak. Seperti kata Rane, seorang blogger yang member testimony dalam sampul belakang buku Makan Tuh Cinta! Ya, kocak karena persoalan simple saja bisa membuyarkan hubungan cinta seseorang seperti yang diceritakan Benny Oktaviano.Selanjutnya cerita cinta dan komedi dari berbagai sudut pandangan kekonyolan dan kekocakan bisa Anda nikmati dalam Makan Tuh Cinta! yang diterbitkan oleh Gradien Mediatama. Barangkali kisah-kisah ini ada yang mirip dengan kisah cintamu. Mungkin juga kisah-kisah dalam buku ini bisa dijadikan referensi agar kisah cintamu lebih berwarna-warni ketimbang sebelumnya
Labels: Publikasi
posted by Sam @ 3/03/2008 12:38:00 PM -
6 comments
links to this post
![]()
![]()
Cintaku Tak Abadi
Monday, February 18, 2008
Terik siang membakar kulit kepala, perlahan mengelupaskan luka pedih yang tak pernah kering atau tak mau kering tepatnya. Karena kita terlalu seringkali kembali mengoyaknya. Kau masih tetap di jalanmu, masih memandang pagi. Mengharap matahari tetap dingin sembari menarikan cahaya saga diufuk timur. Kaupun masih mengurung embun. Menginginkannya tak jatuh dari dahan atau menguap bersama kehangatan mentari. Tetap sama itulah pintamu. Tanpa ada yang berubah.
Kita dipersimpangan dalam ingin yang bercabang. Saling mengulur waktu mengharapkan keluluhan hati untuk mengikuti ingin kita. Namun tak ada yang mencair disana. Hati kita memang bukan batu. Namun telah dipahat dengan tujuan yang berbeda. Pupus sudah untuk bisa luruh.
“Cintamu tidak abadi!”
“Cinta kita telah bertahan hingga jari kita tak cukup untuk menghitung purnama,tidakkah itu jadi bukti?”
“Cintamu tidak abadi!” Kamu mengulang
.......
“Benar!” Akhirnya katamu kuanggukkan.
Mengangguk. Bukan saja kepalaku tapi juga kebenaran ini mengakuinya : Cintaku tak abadi. Cintaku tak lagi bisa ditaruh di dedaunan diantara murninya embun juga tak bisa dilambungkan untuk menggapai sejuknya awan pagi. Jelas, cintaku kini bukanlah cinta yang dulu kau ingini.
Tapi kau tak harus menangisi. Karena cintaku kini tak lekang tertempa terik matahari siang dan berani untuk menuntunmu melihat bintang malam. Dia bukanlah sekedar sejumput kata manis terbisik ditelinga juga bukan hanya hangat peluk didada yang pernah aku selipkan di pagimu. Tapi kini dia telah menjadi satu keyakinan. Keyakinan untuk menggenggam tanganmu menghadapi matahari dan keyakinan untuk bersanding menatap bintang dini hari. Keyakinan yang dulu hanya kekulit angan.
Masihkah kau pinta KEKEKALAN,
Sementara .......
Aku telah mengajakmu menuju KESEMPURNAAN
Labels: Ceritaku
posted by Sam @ 2/18/2008 06:08:00 AM -
5 comments
links to this post
![]()
![]()
Berbalut Mimpi
Tuesday, December 25, 2007
Ceritaku
Sejam yang lalu aku berada di dalam jaguarku, disisi luar kulihat kisahku yang dulu. Terpanggang panas terik dalam balut debu dan asap untuk sekedar memuaskan lapar dan dahaga jasmaniku. Keringatku tak lagi kurasa menetes di kening dan sela bajuku karena aku berada dalam kotak kenikmatan berjalan yang dilajukan orang suruhan. Demikian dengan bauku tak lagi membuat orang bergidik, menahan nafas dan berlalu karena sapuan berbagai aroma buatan yang tak dibuat di negri sendiri. Aku adalah diriku yang duduk di dalam bukan yang berada di luar jendela itu.
Lima menit lalu aku membagikan lembaran uang merah dengan mudahnya. Tangan-tangan terulur di depanku dengan bangga aku tangkupkan dengan sedekah. Tangan-tangan tengadah itu bukan tanganku karena tanganku telah berada diatas. Dengan dihiasi batu mengkilat yang diikat emas berkarat tanganku telah mampu menaburkan keleluasaan rejekiku. Telingakupun akan merona sayu menerima segala bentuk ucap syukuran terima kasih. Meski telah terbiasa berulang kudengarkan.
Semenit yang lalu beberapa wanita memanjaku. Membisikkan cinta dari tutur bibir bergincunya. Dan menyentuh raba lewat jemari lentiknya. Batinku terpuaskan birahiku tersalurkan. Aku bukanlah arjuna pencari cinta namun sebaliknya akulah dewa yang membarakan asmara. Anggukan dan kerlinganku cukup membahasakan apa kata hatiku yang dengan mudah terturuti dan terikuti. Cinta hanyalah kata karena uang yang kini berkuasa.
Detik ini aku terjaga.
Aku masihlah orang yang berdiam dibawah kata papa. Orang yang punya selangit mimpi dalam pijakan piring kosong.
“Pak, Lapar!” Lirih suara anakku.
Pelan kuseret mimpiku mengetuk kenyataan. Untuk menyadarkanku. Agar kugelindingkan nasibku ini dalam alas usaha, bukan sekedar menyelimutinya dengan MIMPI!
Labels: Ceritaku
posted by Sam @ 12/25/2007 11:16:00 PM -
11 comments
links to this post
![]()
![]()
Menari Bersama Hujan
Tuesday, December 11, 2007
Ceritaku
Kepastian belakangan meliuk menjadi satu hal yang langka. Demikian pula dengan hujan. Hujan tak mau lagi diikat dalam satuan penanggalan musim, enggan juga dihitung pasti untuk memprediksi satu masa. Hujan ingin bebas. Bebas untuk datang, bebas pula untuk tak mengunjungi. Hujan membiarkan anak negeri memaki karena air kadang datang tak terduga, dan tak luput mengejek mereka yang berharap karena berbulan tanahnya tak lagi basah. Hujan semaunya mempermainkan harapan dan kecemasan. Memberikan ketidakpastian, memainkan sebuah nasib.
Nasibku bagai semut. Berdiri merapat berjejal dengan teman-teman sebaya diantara sela gedung bertulang membawa payung usang di tengah kemauan hujan yang membasah. Hanya keinginanku untuk bertahan yang memberikan kehangatan di tubuhku yang mulai mengigil.
“Payung pak !” Tawarku berulang kepada mereka-mereka yang menunggu dari kebasahan.
“Bu ... Payung !” Harapku berulang-ulang sambil meminta agar hujan terus jadi temanku sore ini.
Aku melihat banyak wajah yang berharap yang sebaliknya. Namun sepertinya hujan akan lama berpihak padaku.
“Dek, sini !” Seorang bapak melambaikan tangannya.
Aku sodorkan payung yang telah aku buka. Bapak itu melompat ke hujan dalam lindungan payung. Langkahnya janggal menapak, sesekali dihindarinya genangan air. Tapi tak urung celana dan sepatu mahalnya mulai ikut disapa air.
“Brengsek !” Keluhnya. Dia makin mempercepat langkahnya menuju gedung sebelah. Dan aku bagai anjing yang memainkan ekorku, mengikuti sambil menari-nari dibelakang.
Sampai di teras bapak itu mengulurkan payung itu padaku. Sigap kuterima berikut koin uang limaratus perak yang dilemparkan padaku.
“Boleh ditambah lagi Pak ?” Tanyaku berharap.
Tanpa ekspresi Bapak itu berpaling dan berkata, “Payung itu sudah usang dan malah membuat aku basah, beruntung kamu masih aku kasih uang,”
“Tapi Pak ... !” Keinginanku untuk berdebat tiba-tiba aku urungkan.
“Heran kecil-kecil sudah belajar untuk memalak orang, mau jadi apa besar kamu nanti !” Ujarnya meninggalkan aku.
Aku melompat ke dalam hujan yang mengairi tubuhku. Membiarkan airnya menyamarkan airmataku. Membiarkan tetesnya menyiram panas hatiku. Bapak itu lupa yang aku lakukan bukanlah untuk menjadikanku bisa kaya dengan recehan itu, tapi hanya sekedar usaha untuk membuatku bisa melihat matahari esok.
Kembali aku menari dalam hujan untuk menjabat tetes-tetes air yang masih berpihak padaku. Meski aku tak bisa memastikan kapan datang dan perginya namun basahnya kali ini memberi banyak harapan bagi aku untuk bisa mengganjal laparku. Memperjuangkan nasibku.
Hujan jangan berhenti!
Labels: Ceritaku
posted by Sam @ 12/11/2007 10:39:00 PM -
8 comments
links to this post
![]()
![]()














