Panggil Namaku Ikhsan

Friday, February 17, 2006


By Sam (17022006.10.40)
Secarik Cerita



Aku buta atau mungkin memang tak pernah tahu nama yang ibu suarakan untukku. Karena orang selalu memanggilku dengan HARAM. Satu kata menyakitkan yang dipatri kuat di dahiku. Meski telah berkarat orang masih bisa membaca bahwa aku adalah anak yang lahir tanpa diingini. Lahir dari keterpaksaan dan terbuang di lorong penuh kegelapan. Aku dibesarkan di kolong jembatan oleh tangan tangan kasar, dibelai oleh kemerincing musik pengamen dan dihangati oleh terik dan debu jalanan. Beruntung aku masih punya tangan untuk kuulurkan demi mendapat sisa rejeki orang, untuk bisa membuatku terus berjalan dan menutup telingaku akan semua hinaan.

Aku tak mau mengeluh dan menyesali keberadaanku pada ibu,
Kuyakin 9 bulan dirahimnya kasih dan doa adalah suapannya. Kerena bila tidak, mungkin aku adalah salah satu bayi yang ditemukan dalam kantong plastik yang menjadi rebutan anjing geladak. Kuyakin bila dia masih di sampingku tangannya akan selalu menutup telingaku dan selalu membisikkan bahwa hidup adalah untuk esok bukan untuk kemarin. Sayang kehadiranku di tukar dengan kepergiannya. Kini 14 tahun aku seorang diri yang harus menutup telingaku dan menyakini bahwa hidupku hanyalah untuk esok.

Aku juga tidak mau menghujat Tuhan …
Meski kata orang semua bayi yang terlahir adalah suci namun tidak demikianlah dengan aku. Aku dianggap kotor dan najis karena tak adanya satu ikatan yang di syahkan di depan Tuhan. Walaupun ini bukan inginku untuk terlahir dari wanita yang ternoda nasibnya, namun adakah kesempatanku untuk memilih? Aku hanya bisa memahami bahwa aku diciptakan untuk menjadi beda, meski aku harus terseret menjalaninya.

…………..

Matahari telah terik, halaman pasar Cikini bagai terbakar. Gelisah aku memandang setiap mobil yang masuk parkiran. Kuinginkan dia datang seperti minggu-minggu sebelumnya. Aku akan rela untuk membawakan belanjaannya untuk sekedar melihat senyumnya. Senyum seorang ibu yang tulus yang di oleskan dengan hangat di hatiku. Kusadar dia jauh dari jangkauan untuk membelaiku layaknya seorang ibu pada anaknya. Ku hanya ingin mendapat senyum teduhnya, senyum yang membuatku merasa lebih layak untuk dihargai. Dan akupun juga sadari kadang keinginan sederhana bagi orang sepertiku seringkali muskil untuk terjadi, tapi aku tak ingin berkecil hati. Senyum teduh itu, kuingin lihat lagi.

“Haram….. !”
Suara halus menyapaku penuh keraguan membangunkan ku dari lamunan.
“Ibu………...!” Jawabku dalam keterperanjatan. Ibu dengan senyum teduh itu ada di hadapku. Senyumnya masih mempesonaku. Disodorkannya kardus belanjaan itu. Akupun mengekornya menuju mobil.
“Namamu Haram,nak?”
“Bukan!”
“Anak-anak dipasar bilang kalau namamu Haram saat ibu mencarimu tadi,”
“Ikhsan … panggil saya Ikhsan,”
“Kenapa?”
“PANGGILAN adalah DOA, dengan menyebut nama saya Ikhsan, mulut dan hati ibu memberikan sebuah doa bagi saya agar menjadi orang yang ikhsan,” Jawabku datar berhati-hati, ”Saya tak ingin ibu memberikan doa yang tidak tepat bagi saya melalui panggilan itu,”
“Ibu akan memanggilmu ikhsan!” Senyum itu kembali mengembang dan meneduhkan.
Tertegun aku dalam anggukan kecil. Kubiarkan mata ini berkaca.

Ada doa dan belaian kecil di rambut kumalku hari ini. Sungguh indah bagi orang yang terpinggirkan sepertiku mendapatkan sedikit kelayakan meski hanya dari panggilan nama, meski dari seucap doa. Meski Haram adalah masa laluku, dia akan selalu menjadi bayangku. Aku tak melupakannya walau langkahku tak kan lagi menoleh padanya.

“Haram!” Sebuah tepukan di pundak datang dari teman kecilku, Iman yang biasa dipanggil Dodol.
“Panggil namaku Ihksan!”
“Ikhsan? Kenapa?”
“Karena aku akan memanggil namamu … Imam!”

posted by Be Samyono @ 2/17/2006 03:04:00 PM -

10 Comments:

Blogger TheQs said...

Mendapat nama yg 'baik' adalah hak seorang anak....benar itu mas, nama adalah doa dari setiap mulut yg memanggil!!

-mamaX Qs-
http://cahayamata.blogsome.com

7:26 AM  
Blogger Nahria Medina Marzuki said...

Aku tuh yaa paling gak seneng sama panggilan kayak "shortylah", "peseklah" atau yg laennya yg nadanya aja udah negatif.

Seburuk-buruknya orangtua kita, pasti pas kita lahir mereka paling sedikit menghabitkan 5 menit utk mikirin nama buat kita. Jadi buat orang untuk ganti2 nama seseorang yg lain itu menurutku udah penghinaan.

7:58 AM  
Blogger moeng said...

lagi2....tulisan yg bagus,..:) ga tau nih mau koment apa...hanya mau tanya, kalimat paling akhir, imam atau iman yah? :D

11:01 AM  
Blogger Apey said...

nice posting Sam....another masterpiece from your "intel inside" mind !! :)

12:46 PM  
Blogger isna_nk said...

nama itu doa, nama itu juga bisa embentuk jati diri. nice posting :)

6:47 AM  
Blogger Bverly said...

Nama ternyata sangat penting ya? wajh tulisan yang bagus!!

*Ikhsan* jadi ingat ama temanku dulu!

9:03 AM  
Blogger Sam said...

To theqs:
Setuju sekali :)

To yaya:
Makin bijak deh yaya

To Moeng:
Tx buat koreksinya ya salah ketik :)

To apaey:
Pey hehehe ada aja istilah kamu :), tx

To Isna:
Setuju buanget

To Bev:
tx yack dah mampir.

6:27 PM  
Blogger Sisca said...

Mas Sam, sepeti biasa, sangat menyentuh..

1:36 AM  
Blogger mamat ! said...

perenungan yang sangat mendalam.
Panggilan adalah doa, dan setiap anak yang dilahirkan ke dunia, adalah suci.
Tidak ada yang bisa memilih dilahirkan oleh siapa.

11:29 AM  
Blogger unai said...

aku nggak bisa komen banyak mas...
Selalu dalem...punya arti...
salut deh mas...

12:13 PM  

Post a Comment

<< Home