Menyusur Surga-Surga Kecil Bandung

Tuesday, August 02, 2005

By Sam (26072005.16.43)

Cukup berat bagi aku untuk mengangguk setuju akan rencana bersama bro-ku dan iparku ke Bandung. Minggu belakangan ini aktifitasku begitu padat. Belum lepas lelahku akan perjalanan 3 minggu di Malang dan Jogja juga mengajar weekend sebelumnya di Puncak, weekend ini harus ke Bandung. Padahal tak selang 3 hari kemudian aku akan ke Makasar dan menghabiskan weekend di bersama temen2 tenis di marina Anyer. Duh tak bisa kubayangkan bagaimana lelahnya. Karena rencana ini telah terhembus jauh bulan sebelumnya dan kesulitan dalam mengaturnya kembali akhirnya kepasrahan adalah jalan terbaik. Dan mencoba menikmati adalah upaya terbaikku.

Pukul tujuh (23072005) lalu kami telah memasuki tol dalam kota dan menyambung tol Cikampek. Hingga kilometer ke 70-an, kami masuk tol ruas tol Sadang. Aku segera dibangunkan dari tidurku. Aku sama sekali tak ingin melewatkan kesempatan untuk merasai tol Cipularang. Tol yang cukup spektakuler dalam sejarah pembangunan jalan tol kita. Tol yang disiapkan untuk ajang akbar, konferensi Asia-Afrika. Hingga kilometer ke 100-an tak ada hal spektakuler nampak. Selayaknya jalan tol, tol Cipularang tergolong tidak istimewa sejauh kilometer ini karena kondisinya sama halnya tol lain. malah kalo dibilang kondisinya lebih tidak mengenakkan. Selain sempit ruas jalan ini dari beton sehingga terasa begitu bergelombang dan keras. Baru setelah Kilometer 100 keindahan nampak. Jalan berkelok naik turun dengan background jajaran gunung begitu menakjubkan. Disinilah keunggulan tol cipularang lebih mencuap diantara tol lain. 29 ribu adalah harga yang harus kami bayar. Tak rugi, ini menghemat hampir setengah waktu perjalanan bila tanpa lewat tol.

Bagiku Bandung ibarat tempat dengan berpuluh surga kecil. Sayang peluh dan kekesalan tak ada habis untuk mencapainya. Bagaimana tidak, perkembangan kota dengan berpuluh tempat menarik yang tidak saja dilihat dari segi arsitekturnya tetapi juga ide2 kreatifnya tak diimbangi dengan penataan tata kota dan sarana transportasi yang terintegrasi. wajar bila Bandung semakin sesak dan macet!

Image hosted by Photobucket.com Image hosted by Photobucket.com



Kunjungan sehari ini kami padat kami manfaatkan. Sepagi ini sudah berada di pasar baru. Berpuluh jajanan kecil menyesaki bagasi. Belum usai kami berlanjut makan siang di The View. Cafe di punggung bukit ini tepat menatap kota Bandung dengan indahnya. Konsep menariknya cukup memberi warna beda. Tak percuma menunyapun cukup lezat dilidah. Saat matahari mulai bergulir kami menuju FO yang berderet di Dago atas. Mulai dari Blossom, Grande, Victoria, Glamour juga Happening tak luput dari injakan kaki kami. Hasilnya isi bagasi mulai bertambah dan kaki-kakipun mulai payah melangkah. Sebelum senja kami punya target sampai The Valley. Kami tak ingin masuk waiting list karena berjubelnya pengunjung. Kami tepat sampai disana. Sambil menunggu senja membenam beberapa menu kami order. Seperti di The View kamipun cukup terpuaskan dengan menu di sini.

Senja mulai digantikan malam. Lampu sentir dan beberapa lampu pijar mulai menyala. Tendapun mulai dilipat untuk memberi keleluasaan memandang Bandung dari café di punggung bukit ini. Keindahan menyala dari kerlipnya. Keindahan tersendiri! tak berapa lama kami turun dan merayap ke Jakarta. Tol Cipularang tak lagi terlihat karena mataku telah terlelap.

posted by kinanthi sophia ambalika @ 8/02/2005 03:42:00 PM -

1 Comments:

Anonymous Anonymous said...

iya . bener.
huehehehe...
mau komentar apa ya???
aku bolak balik lewat bandung, tp ndak pernah jalan jalan di dalam kota bandung... males lihat macetnya.. tp baca soal the view.. jadi pengin juga ke sana....
....

1:04 PM  

Post a Comment

<< Home