Lidahku Masih Kelu

Monday, November 28, 2005


By Sam (26112005.21.37)
Secarik Cerita


"Kau suka padanya"
"Teramat suka ... Utara ," Rona wajah Punai memerah di selang ucap lirihnya, berpaling dia membuang muka menyembunyikan malunya. sembari memainkan ujung helai rambutnya "Kurasakan baranya membakar hasrat batinku setiap ku didekatnya. Mematungku pada diam dan membisukanku dari kata. Dia membuatku tak berpijak"
"Apakah selama ini Bayu pernah mengatakan hasratnya padamu?"

Menit berlalu tersiakan tanpa aku dengar jawaban Punai. Hanya desah nafas beratnya terdengar bermain diantara dua mata indahnya yang bertatap kosong. Sama kosongnya dengan apa yang aku rasa saat ini. Sejak kecil orang-orang kampungku mengenal Punai adalah bayang Utara, bayang diriku. Meski dilahirkan dalam keluarga yang berbeda. Kami tumbuh dari makanan yang tersantap dalam piring yang sama dan dalam gelas yang terminum bersama. Juga di buai dalam ayunan yang tak berbeda. Tak ada pengakuan lain yang layak selain mengamini bahwa Punai adalah saudara sejiwa Utara.

Hingga bertahun lalu mulai aku sadari arti lebih dari saudara sejiwa. Kesadaran bahwa Punai telah mengambil jiwaku. Jiwa yang merasakan kekosongan semata tanpa senyum dan hadirnya dia. Tapi terlambat ... keluku saat didekatnya menciptakan bumerang bagi diriku. Tiada kata pinangku menerbangkan hati Punai pada seorang Bayu. Sahabat yang selama beberapa bulan belakangan ini memberi ceria pada perkawanan kami.

Getir kudengar jawab Punai. Hilang sudah angan untuk menyelipkan cincin perak dijari manis di bawah nyiur tempat kami dulu selalu bermain. Pudar sudah harap untuk bisa bersama memeluk pinggangnya, menuntunnya menari di pematang hingga senja menjelang. Sia penantianku hanya karena lidahku yang kelu.

.........

"Apakah kamu tak ingin jujur mendahului mengatakan hasratmu?" Tanyaku memecahkan hening.
"Aku seorang wanita ... Utara!"
"Tak bolehkah?"
"Dan aku adalah orang timur!
"lantas....?"
"Itu tabu ........."
"Benarkah?"
"Aku tak ingin berdebat Utara, tapi aku lebih baik menunggu ucap Bayu daripada aku yang mengatakan."
"Punai, tidakkan kau bersembunyi pada kata tabu yang kau ucap?"
"Maksudmu?"
"Jujur saja sebenernya kamu takut ........ patah hati!"
Sekejap Punai terperanjat mendengar pernyataanku. Tanpa memberikan anggukan atau gelengan matanya terpejam mencerna kebenaran yang kuucap.

"Andai aku bisa memilih aku akan rela untuk merasai hati yang patah daripada membiru hatiku karena tak pernah bisa mengatakan apa yang aku rasa. Cinta membawa konsekwensi, darimana kita tahu dia ada untuk kita kalau kita tak pernah mengatakannya. Sungguh sesak cinta kita terbang hanya karena kita kehilangan nyali untuk mengatakannya."


Sejenak Punai memandangku dengan sungguh. Digapainya tanganku di genggamnya. ”Apakah aku harus mengatakannya .... pada Bayu?"
"Hati dan rasamu berhak memilih Punai. Biarkan dia menyuarakan kehendaknya. Hasrat dan cintanya ...... jangan ciptakan sesal yang tak terbayarkan!"

Berdesir hatiku saat Punai menangkupkan tanganku di wajahnya, membasuhnya dengan air matanya. "Utara .... terima kasih kau memberiku kekuatan bagi hatiku untuk bisa memilih. Katakan apakah kau pernah berada dalam galau sepertiku,"

Sebait senyum berat ku biaskan untuk punai. "Ya Punai ... saat itu pernah ada. saat dimana ingin kukata bahwa aku mencintaimu!"

Mata punai tajam menatap menanti jawabku. Kuyakin dia tak mendengar jawabku bahkan mungkin tak akan pernah mendengar karena yang menjawab adalah hatiku ... bukan mulutku. Karena seperti tahun lalu lidahkupun masih kelu!

posted by Be Samyono @ 11/28/2005 09:53:00 AM -

11 Comments:

Blogger retnanda said...

hore....! jadi yang pertama kasih komentar...
..
sam.. kok sendu melulu sih postingannya...
sekali kali yang happy ending ah postingannya...
..
good luck ya...

11:05 AM  
Blogger mamat ! said...

hmmmm .. cinta segitiga yah...

zaman sekarang semua orang berhak untuk mengungkapkan perasaannya, no matter laki-laki atau perempuan.

Katakan ... agar kau mengetahui.

hmmm, Bayu, Punai, Utara. Akahkah Punai memilih Bayu, atau malah memilih Utara. Atau tidak keduanya ?

kayaknya bisa jadi karya selanjutnya tuh.

11:12 AM  
Blogger Nahria Medina Marzuki said...

Kenapa Utara enggak bilang ke Punai kalo dia cinta?

2:32 PM  
Blogger isna_nk said...

aku baca sekali kok ndak paham ya... aku baca lagi ah ...

2:59 PM  
Blogger Sam said...

To Retnanda: Beres mbak yu permintaan akan segera dikerjakan
To mamat: yuk tebak2 buah manggis yukkkk
To Yaya: Mungkin Utara mempunyai alasan seperti dirimu saat kamu ( duh itu tuh....masa mesti aku tulis :P)
To Isna: Gak usah dibaca lage Na, sini aku critai aja :)

3:14 PM  
Blogger isna_nk said...

masalah cinta itu masalah yg rumit :D

3:15 PM  
Blogger unai said...

Wahai engkau Utara, kenapa tak kau rekatkan hati punai dengan patri cintamu?

Wahai engkau punai, tak kah kau tau...setia Utara mencintaimu...dan kau bayu, jagalah punai dengan cintamu.

huhu...penake jadi punai, dicintai bayu dan utara...

4:21 PM  
Blogger Nahria Medina Marzuki said...

*gubraaakkkss...

Nasehat buat Utara..ayooo tell Punai that u love her..

6:54 PM  
Blogger woro said...

Hmmmm...kasian gw sama Punai, sometimes LOVE is so CRUEL :(

7:55 AM  
Blogger karena manusia BERUBAH. . . said...

huadoooh...
kenapa nggak bilang aja sih?
jadi geregetan...
[karena kesindir?] hehehe...
tapi bung, rasanya sayang kan kalau perasaan cinta kita pada seseorang tidak diberitahukan pada yang bersangkutan?
karena toh pada dasarnya tidak ada manusia yang tidak senang ketika dicintai...hehehe...

9:55 AM  
Anonymous Obat Alami Mata Minus Dan Silinder said...

nice

2:37 PM  

Post a Comment

<< Home