Anna Cafe

Monday, February 21, 2005

By: Sam ( 190205.20.07)

Belakangan kesempatan makan dirumah agaklah jarang. Bukan saja karena kami pulang makin larut tapi juga beberapa teman datang ke jakarta dan sebagian karena undangan. Ujungnya makan di cafe adalah pilihan. Taklah sulit menemukan tempat makan karena aku sendiri suka untuk explore dalam hal satu ini. Beberapa temen malah agak dipusingkan dengan seleraku akan makanan, bukan masalah dimana harus makan tapi bagaimana soal rasa. Dimengerti ... meski super dalam hal makan tak pernah berat beranjak dari 55 Kg! Malah karena dikantongku ada sederet resto & cafe juga kaki lima ”black list“ kadang aku lebih suka memasak sendiri.

Yasu dan keiko malah contoh dari teman Jepangku yang paling mudah dalam urusan makan. Makanan Indonesia cukup bisa diterima lidah mereka dengan penuh selera. Sup buntut cafe bogor, bothok plus ayam goreng suharti, tempe tahu penyek wong solo, cah kangkung bungan pepaya camu-camu bahkan lalapan di Dapur sunda. Berbalik dengan aku yang justru lebih suka makanan mereka daripada makanan western. Tak masalah meski mentah yang penting segar dan bersayur! Selera kanibal begitu salah seorang teman menjulukiku. Akupun tergelak.

Satu keinginan untuk bisa membuka sebuah resto yang berselera dan cozy dengan stylenya yang khas. Anna Cafe menjadi inspirasiku.

Anna Cafe... sebuah cafe dengan halaman luas berarsitekturkan deco dengan cat putih di jantung kota bangkok. Sony teman kakakku saat SEAYP 91 yang membawa kami kesana 2003 lalu. Interiornya cukup sederhana dengan taman anggrek di pationya. Yang menarik justru photo-photo kuno gambar cinta Anna dan Raja Thailand di erra abad 18 –an yang kental sebagai tema. Memasukinya terasa kembali bernolstalgia layaknya film “Anna & the King” Jodie Foster & Chow Yun Fa. Romatic…..

Bukan itu saja.. makanan yang terhidang benar-benar disajikan dengan style yang beda. Tidak saja pada piranti makannya namun juga bagaimana menyajikannya. Sederhana namun cukup berkelas dan memberi pengalaman tak terlupa. Terlebih lagi rasa yang terhidang demikian memanjakan.. Saat pulangpun taklah terperanjat dengan bill yang disodorkan.

Bisnis resto berhasil karena rasa atau suasana...tapi Anna Cafe telah memberikan keduanya.

Mmm mungkin bila ingin nama tema seperti Anna Cafe ... Roro Mendut Cafe sepertinya tepat dan ada kesamaan kisah cintanya meski berbeda endingnya. Masalahnya kini…. Adakah photo Roro Mendut yang bisa di pajang? Siapa yang pernah memotretnya? Bahkan kutak tahu apakah dia bener-benar pernah ada!

posted by kinanthi sophia ambalika @ 2/21/2005 07:43:00 AM -

0 Comments:

Post a Comment

<< Home