Adakah Cinta Tak Bersyarat?

Wednesday, February 02, 2005

By Sam ( 020205.17.31)

Suatu ketika kujumpai teman lamaku berjalan dengan teman wanitanya. Ditangannya tergelantung tas tangan wanita tersebut juga blasernya. Keduanya berkeliling diantara deretan gaun yang dipajang. Si wanita asyik menyusup diantara rak baju dan memilah gaun yang pantas untuknya. Sekali waktu HP si wanita berbunyi di saku temanku. Dengan serta merta disampaikannya benda mungil itu sembari berlari kecil ke arah si wanita. Aha… apakah sekarang dia bukan lagi “Mr. Right” lagi. Tugas mulia yang diembannya lebih pantas memberinya julukan “Mr. Bodyguard”

Suatu ketika kuterima telpon dari sahabat wanita. Kali ini aku lebih banyak mendengar isaknya daripada kata ceria. Kata tak tahan akan hubungan dengan teman prianya berulang kali terlontar. Namun nasehatku untuk meninggalkannya sama sekali tak mau didengarnya. Dia bilang sangat mencintainya !!! duh. Satu keyakinan bahwa teman prianya akan berubah dipaparkannya. Saat kutanya kapan itu terjadi. Dia hanya bilang nanti. Rupanya sahabat wanitaku telah menjadi “Miss Patient” !!! meski dalam derita.

Begitukah cinta yang seharusnya? Menyanjung kata cinta tanpa syarat hingga rela menempatkan diri dalam kasta yang berbeda. Membalut kepedihan dengan harapan tak berujung. Dan, Parahnya yakin akan perubahan pada pasangan kita….

Kupertanyakan cinta itu….

Apakah cinta selalu identik dengan pengorbanan, pedih dan nestapa. Tak bisakah kita membahagiakan, mensenyumkan dan memupuk harapan dengan indah dengan kata cinta?
Sulitkan bagi kita untuk sedikit memaknai hidup kita dengan kata cinta.

Sama seperti pendapatku. Temanku Didot di Surabaya sana mengatakan mencintai itu ibarat satu kompromi. Dan kami saling mengamini konsep ini. Kompromi atas sikap tindakan dan prilaku pasangan kita hingga sejauh mana keduanya bisa saling mentolerir kelebihan dan kekurangan masing. Mengkompromikan keinginan dan harapan hingga wujud kemufakatan bisa diraih….bukan justru ingin mengubah pasangan kita dengan kemauan dan bayang kita, hingga kita makin terlunta. Bila kita tak mampu utuk mentolerirnya. Mestinya secara sadar kita sudah undur diri. Namun bila sebaliknya …. Kita tahu hidup hanyalah mengenai pilihan dan konsekwensi, sepantasnya kita berlapang dada menerima konsekwensi dari pilihan hati kita.

Sulitkah ini…..???

Aku yakin selama kita bisa meletakkan cinta tidak diatas ego kita. Kita tak perlu menjadi Miss atau Mr yang jelas bukan diri kita.



posted by Be Samyono @ 2/02/2005 06:13:00 PM -

3 Comments:

Blogger Nahria Medina Marzuki said...

Bisa sih mas,cinta tanpa harus ada yang merana.Tapiiii...2 belah pihak hrs benar2 punya 1 pandangan cinta yg sama, untuk fondasi hubungan mereka.

6:50 PM  
Blogger Sam said...

Siplah Yaya...:)

8:20 AM  
Blogger Sam said...

Sipppplah yayaya, benul sekali

12:52 PM  

Post a Comment

<< Home