Cincin Kawin

Tuesday, September 25, 2007

By Sam (25092007.13.39)

Belakangan ini aku mempunyai kebiasan untuk menangkupkan telapak tangan kiriku menutupi punggung tangan kanan. Bukan tanpa sebab. Aku menutupi cincin perkawinanku. Cincin belah rotan sederhana tanpa mata ini telah pudar warnanya pun permukaannya tidaklah halus lagi. Tidak hanya usia perkawinan kami yang telah 10 tahun ini yang memakannya tapi juga kerja fisikku yang menggerusnya. Cincin ini tak bisa lepas dari jari manisku. Bukan aku tak berniat menaggalkannya tapi perubahan badanku memaksa cincin ini melekat di jariku tanpa bisa tertanggalkan.

Bulan lalu di arisan RT, Ibu Prodjo memamerkan cincin perkawinannya. Cincin bermata berlian tunggal itu terlihat mencolok dan mahal. Dikatakannya bahwa cincin itu adalah pengganti cincin nikahnya dulu yang dirasakannya tidak modis dan kurang berat di gram-annya. Seperti virus influenza bulan ini di arisan para ibu berlomba memamerkan cincin-cincin kawinnya yang baru. Berlomba menukar cincin lamanya hanya untuk mendapat tampilan dan kilau yang baru.

“Loh Bu Isa nggak tertarik dengan cincin baru ya, buat apa gaji Pak Isa nantinya?,” Sebuah tegoran usil dari Bu Darmi memaksa beberapa mata mengalihkan perhatian ke jari manisku yang sejak tadi berusaha aku tutupi. Aku salah tingkah.



“Wah Bu udah belel gini. Ganti saja masa nggak malu memakainya!”

“Kalau mau saya ada langganan toko emas yang murah loh.”

Aku benar-benar terpojok. Beruntung satu kalimatku menyelematkan aku sore ini, “Bukan begitu Bu. Cincin ini sepertinya menjadi nasib saya untuk bersamanya, gemuknya badan saya membuat cincin ini tak bisa lepas. Tidak lucu bukan kalau saya memakai 2 cincin kawin!”

Ibu-ibu yang lain mengangguk-angguk seolah memperoleh pembenaran yang tepat.

Aku meninggalkan keriuhan di ruang utama dengan pura-pura mengambil tambahan minum di dapur. Aku kembali memandangi cincin ini. Cincin yang dulu kami beli patungan karena keterbatasan apa yang kami punya. Mungkin kini aku bisa dengan mudah menukarnya tapi aku tak sanggup menukar kenangan di dalamnya. Cincin Kawin hanyalah simbol dari perkawinan tak ada salah untuk diperbaharui. Itu benar namun kini aku lebih memilih memperbaharui setiap kebahagiaan dalam perkawinan kami daripada sekedar memperbaharui SIMBOL-nya.

Labels:

posted by Be Samyono @ 9/25/2007 02:47:00 PM -

9 Comments:

Blogger mamat ! said...

hmmm, cincin bisa bermakna sangat dalam.
itu bukan hanya cincin, tapi adalah cinta dan sayangmu ....

nice post bro ...

8:20 PM  
Blogger Nahria Medina Marzuki said...

Cuman mau nanya...itu cincin yang di foto cincinnya mas sam dan mbak yeni yaaa??

2:32 PM  
Blogger unai said...

wah dalem mas, sederhana tapi menohok. Lama gak baca tulisan yang begini di blogmu mas...

12:26 PM  
Blogger imgar said...

betul kata unai, Mas..
udah lama gak baca yang menohok di sini.. :D

mmm..kenangan..!?!?

4:44 AM  
Anonymous Anonymous said...

hmmm..
no comment sam
karena saya walaupun sudah menikah lebih dari 10 tahun, tetap tidak memakai cincin kawin.
Kami berdua tidak memakainya..
alasannya?
teknis banget.
suami saya tdk mau memakai emas.
saya? terbiasa mencopot segala perhiasan setiap mau melakukan ritual kamar mandi or yang berususan dengan air, entah itu masak, cuci or berenang pun.
copot pake copot pake copot pake copot.. akhirnya keterusan.. sampai sekarang ndak pernah pake lagi.
apalagi.. saya tidak begitu suka asesori cincin... ya karena alasan teknis tadi itu.
cincin kami sekarang ada di dalam kotak.
dan.. ndak ada masalah tuh...

kamu tahu dong sam... saya gimana.. kalau ndak melenceng dari aturan.. rasanya ndak afdol...
huehehehe...


mbakyumu

10:23 AM  
Blogger -i- said...

oalah mas.. tak kirain crita non fiksi mu huhehehe...
lah kaget, rsanya baru kmaren kok dah pudar ajah, dah 10 taun aja...
lah ngga tau nya...

:D

9:47 PM  
Blogger achi said...

cincin bukan segalanya...toh ada juga sepasang suami istri gak pake cincin..yang pentig cinta n' sayang tidak pudar dan berubah..semoga langgeng ya om :)

7:09 PM  
Blogger .:: AG. SYAM ::. said...

Cincin kawin saya dan istri malah sudah dijual! Itu terjadi 15 tahun yg lalu, ketika anak pertama saya lahir. Sampai saat ini saya nggak terpikir untuk menggantinya dengan yang baru, karena sepasang cincin tersebut masih tetap menemani kelanggengan cinta kami, dan telah menjelma menjadi seorang pemuda yang gagah dan tanpan...

11:34 AM  
Blogger Aditya Nur Baskoro said...

seniman yang punya blog, saluut mas perpaduan warna dan susunannya bagus.......saya mau kaizen dari blog ini boleh ya

6:56 AM  

Post a Comment

<< Home