Harapan Itu Indah dan Tidak Salah

Thursday, February 08, 2007

By Sam (08022007-22.09)
Ceritaku


Keretaku bergerak perlahan. Amat perlahan. Bagai langkah kaki gadis. Berjingkat diantara kubangan menghindari adanya genangan. Jendelaku berwarna buram melukiskan paniknya orang-orang yang hampir tenggelam, meneriakkan riangnya anak-anak bermain dilahan kebanjiran. Dan hatiku dalam kekesalan mendapati kotaku hanyalah seonggok perahu kertas yang layu dan karam saat hujan turun lalu air bah datang. Aku meninggalkannya!.

Sebelahku bangku kosong, demikian juga beberapa bangku di gerbong ini. Lengang dan dingin. Tak ada kemewahan meski tiket yang kubeli berlabel eksekutif. Kutarik selimut yang baru dibagikan, kubungkuskan dikakiku dengan risi membayangkan entah berapa hari benda ini menyelimuti beragam manusia tanpa di cuci. Di dinding kaca jendela kusandarkan kepala sementara kakiku memenuhi bangku sebelah. Siluet di luar beradu lari di temaran senja. Aku tertidur.

“Maaf, 7B!,” Suara datar membangunkanku. Kupindahkan kakiku ke tempat semestinya. Kusapukan mata dalam keadaan setengah sadar. Sampai Cirebon ternyata.

Suara itu milik seorang gadis. Tak ada yang terlihat luar biasa kecuali wajahnya yang lebih dingin dari suasana gerbong ini. Badannya yang semampai dan dibalut jaket ungu segera dihempaskan di bangku sebelahku sementara sedikit bawaannya dibiarkan berada diatas kabin terbuka. Kami terdiam. Tak ada cakap di gerbong yang belum jalan.

“Ke Jogja?,” Tanyanya saat peluit panjang terdengar ditiup kepala stasiun.
Aku mengangguk.
“Saya ke solo,”
Aku hanya membalas dengan senyuman. Aku tak terbiasa untuk berbasa-basi dengan orang yang belum aku kenal. Mataku berpaling menuju luar jendela tanpa focus yang jelas.
“Sendirian?”
Aku tak menjawab, kuberbalik menoleh ke arahnya. Kudapati pandangnya ke terbuang kedepan selama dia mencoba mengajakku bercakap. Kudapati diriku seperti terintogasi dengan pertanyaan sepotong-sepotongnya. Kusimpulkan dia tak hanya ingin berbasa-basi.

“Kamu?,” Tanyaku balik.
“Berdua,”
“Kamu dan …?,”
“Keputus asaanku!,”
Kereta makin kencang menggemakan suara gaduh dan derik besi-besi beradu menembus pekat malam. Kembali kami dalam diam. Lama, lama sekali.

“Pernah merasakan putus asa?” Gadis itu membuka mulut setelah berbelas stasiun kecil terlewati.
Aku menggeleng.
“Aku tak percaya,”
“Kamu tak perlu percaya karena tak ada sesuatu yang perlu aku buktikan,”
“Kemana keputusasaanmu pergi?,”
“Dia tak pergi, dia kugantikan,”
“Dengan …?,”
“Harapan.”
“Harapan itu menyakitkan,” Tegasnya dalam. “Aku tak pernah mau lagi berharap. Akan menyakitkan!.”
“Harapan tak pernah salah dan jangan pernah disalahkan.”
“………….…”
“Seringkali ketidak iklasan hati kita untuk menerima kenyataan yang jauh dari harapan itulah letak kesalahannya, bagaimanapun harapan itu selalu indah.”
Mata itu tetap memandang kosong kedepan.

“Saya turun Jogja,” Kataku beranjak meninggalkan bangku begitu kereta berhenti di stasiun Tugu.
“Saya ke Solo,” Balasnya

Aku memandangnya dari balik jendela begitu turun kereta. Matanya masih menerawang kedepan. Seulas senyum menghangatkan wajahnya yang beku. Senyum itu untukku atau untuk kata-kataku … aku tak tahu. Karena dikota ini akupun turun bersama keputus asaanku yang sulit kutukar dengan pengharapanku.

Labels:

posted by Be Samyono @ 2/08/2007 11:42:00 PM -

7 Comments:

Blogger mamat ! said...

hmmm, keputusasaan dan harapan hanya setipis labirin. Tapi bila sudah sampai tahapan itu, semoga kebahagiaan dan ketenangan yang dirasakan.

Another deep story Bro ...

9:36 AM  
Blogger pyuriko said...

Terharu banget baca tulisan ini.

11:04 AM  
Blogger Iman Brotoseno said...

harapan yang membuat kita tetap hidup

1:33 AM  
Blogger Chika said...

Cinta datang kepada orang yang masih mempunyai harapan

10:50 AM  
Blogger ime' said...

Sam... tulisan kamu bagus...

gue suka banget :)

*btw, itu kejadian beneran?*

9:53 AM  
Blogger Apey said...

Postingan yang SAM bangett!! Udah waktunya dibukukan nih Sam :)
Aku mengamini komentar si Mamato tuh...tidak akan pernah ada hidup tanpa namanya putus asa dan harapan :)

8:46 AM  
Blogger i- said...

hwaaa pas bgt sama apa yg pernah aku ucapin... "harapn itu menyakitkan" Jadi brasa ke sentil deh... :)

7:18 PM  

Post a Comment

<< Home