Pak Jari

Wednesday, November 08, 2006

By Sam (01112006.17.21)
Langkahku

Aroma bedak tabur dan semarak sabun mandi batangan menyambutku menapak masuk. Aroma khas yang lebih dari 27 tahun tak lagi aku rasai lewat penciumanku, kini kembali mengusikku. Kujumpai dua orang asing yang tak lagi aku kenal sedang melakukan pekerjaannya, juga dua orang yang lain yang mengantri sembari termangu. Aku masuk dengan canggung menunduk menghindar tatapan mata, beringsut duduk berjajar di bangku antrian. Tak pernah terbayangkan aku akan berada di tempat ini lagi.

Dua puluh tujuh tahun bukan waktu yang singkat. Tapi cukup terasa singkat bila berada di ruang ini. Ketidak berubahannya membuat terasa masih menengok hari kemarin di sini. Ruangan ini masih sama. Luasan 3 X 10 meter dengan langit-langit yang tinggi masih terisi 5 bangku cukur. Didepannya terdapat meja peralatan dan 3 bingkai kaca cermin memanjang terpaku di dinding, demikian juga dibagian sisi berseberangannya. Jajaran bangku antrian tepat berada di belakang bangku cukur dibawah deretan cermin belakang. Kesemuanya mulai menua, kusam dan rapuh. Tidak saja lantai teraso yang makin pudar motifnya namun juga bangku dan semua peralatan kerja yang ada. Satu-satunya barang baru yang terlihat adalah razor cukur elektrik yang menggantikan razor capit lama. Selebihnya masih sama. Bahkan aku masih bisa melihat pengasah pisau dari kulit, gunting-gunting yang di bebat tangkainya dengan kain, juga sabun lifeboy yang biasa digunakan untuk pelicin kerokan cambang.



Aroma di sini masih tercium kental. Dan bayangku serasa masih mencium pula aroma ibuku yang biasanya menemaniku bila kemari. Teringat 27 tahun yang lalu aku selalu sembunyi di belakang ibu untuk memasuki tempat seram ini. Memasuki ruang pangkas rambut yang keberadaannya menempel pada bangunan induk peninggalan Belanda yang diperuntukkan bagi Mess Anggota Angkatan Darat. Wajar, karena ini memang tempat pangkas rambut anggota Angkatan Darat. Meski begitu tak sedikit orang umum menggunakan jasa disini karena terkenal dengan potongannya yang rapi dan sangat “tentara”. Tak ada pilihan potongan lain kecuali pendek dan cepak. Jujur aku kurang suka kala itu, tapi mau dikata apa ini pilihan ibuku.

Bulan maduku dalam mengenal tempat ini tak begitu memprihatinkan karena saat pertama diantar ibu aku dikenalkan dengan Pak Jari. Entah, mungkin ini nama panggilannya. Orang paruh baya dengan rambut gondrong putih dan berperawakan kurus tinggi. Dengan tangan dinginnya kerewelanku bisa diatasinya bahkan tak jarang akhirnya aku berani datang sendiri kemari untuk di pangkas oleh dan hanya oleh Pak Jari. Mengandalkan trik pura-pura mengantuk dan tertidur Pak Jari dengan senang hati akan mendahulukanku meski aku berada pada antrian buncit. Hingga akupun bisa pulang dengan satu senyum manis. Selain kesabarannya menghadapi anak-anak sepertiku yang suka bertingkah dan tak bisa diam saat dicukur Pak Jari juga pintar memangkas sehingga 2 pusar di ubun-ubunku tidak membuat rambut ku berdiri seperti ekor nanas.

“Pak Jari mana?” Ucapku membuka kata ketika aku telah duduk di bangku cukur yang biasa digunakan Pak Jari dan tukang cukur yang akan memangkasku menyelimutkan kain putih di leherku.

“Istirahat mas, capek!” Balasnya “Beliau mencukurnya hanya pagi hari saja sekarang”.

“Pasti sudah sepuh ya,” Tanyaku membayang.

“Bener mas, lha wong anaknya saja sudah setua itu,” Jawabnya lagi sembari menunjuk tukang cukur disebelahnya.

Yang ditunjuk terkekeh mengulum senyum, “Dan yang memangkas mas itu adalah anak saya, berarti dia cucunya Pak Jari khan”.

Kami terbahak menertawakan lingkar kerabat yang turun-temurun terpaku pada profesi yang sama ditempat ini. Kamipun terlibat dalam pembicaraan yang panjang. Hingga.



“Lho mas kok kenal Pak Jari?”

Pertanyaan singkat membuka kembali banyak kenangan kecil yang mengikatku ditempat ini. Tempat persinggahan sesaat dimana segala sesuatunya terlihat berhenti dan bergerak statis di sini. Tempat dimana aku masih bisa menemukan masa kecilku bersama ibuku ditengah banyak hal yang telah aku lupa dan lupakan. Tempat yang menyadarkan aku bahwa betapa jauhnya aku telah berjalan dan perlahan menguburkan keberadaan kota kecil ini dengan kepindahanku.

“Cukup mas?” Cucu Pak Jari yang telah beranak satu ini mengakhiri guntingannya dan mengusapkan bedak terakhir untuk membersihkan potongan rambutku.

“Ya ... bagus sekali,” Kataku dalam senyum.

Potongan spike-ku telah hilang tergantikan potongan ala sersan. Cepak dan rata. Seperti Pak Jari, cucunyapun bisa menghilangkan ekor nanas di kepalaku. Di cermin aku seperti melihat diri kecilku, suka mengusap kepala setelah rambut terpangkas dan lama mematutkan diri. Dulu ibuku akan segera menyambutku turun dari bangku cukur yang diganjal karena kecilnya badanku untuk mencegahku komplain dan minta yang aneh-aneh. Segera ibu mengajarku untuk menyalami Pak Jari untuk pamit dan mengucap terima kasih padanya. Akh.... tak terasa itu 27 tahun lalu saat aku baru ... 5 tahun.

Catatan kecil saat lebaran

posted by kinanthi sophia ambalika @ 11/08/2006 04:19:00 PM -

3 Comments:

Blogger nl said...

orang-orang tuh ke salon ato potong rambut pas sebelum lebaran..biar pas lebaran gaya.. :p
tapi ini koq beda ya..? :)

7:58 AM  
Blogger ime' said...

heheheh... mengingatkan gue untuk potong rambut. dah gondrong gini :D

10:28 AM  
Blogger retnanda said...

sam...
kali ini aku suka baca postingan mu
tersenyum
dan tidak termangu

12:12 PM  

Post a Comment

<< Home