Sarung-sarung Yang Memelukku

Wednesday, October 11, 2006

By Sam (11102006-10.50)
Langkahku


Kain panjang yang ditangkupkan ujungnya dengan jahitan memanjang mengikuti sisi temunya dikenal orang dengan nama SARUNG. Bukan hanya pria yang mendominasi pemakaian sarung untuk keperluan laki-laki seperti sembahyang, kenduri, pelengkap pakaian tradisional ataupun sekedar teman tidur atau malah untuk pengusir dingin malam kala ronda. Kaum wanitapun tak kalah akrab dengan kain jenis sarung ini. Sudah jelas bagi mereka sarung banyak dipakai untuk kegunaan berbusana dan juga sholat meski ada kala sarung dipakai untuk ayunan bayi dengan menalikannya di gawang rumah atau pelengkap timbangan kala posyandu digelar. Sarung apapun motif, bahan dan kegunaannya ternyata menjadi satu bagian umum kehidupan selain juga sebagai identitas diri.


Sepertinya menjadi jawaban yang klise bila ada yang bersuka rela menawariku oleh-oleh, saat kemanapun rekan atau familiku pergi. Jawaban yang diperoleh dariku cukup singkat, jelas dan pasti ... Sarung!. Meski tak lazim dan tidak mengikuti tradisi tapi begitulah. Berbagai alasan bisa aku lontarkan untuk menjawab mengapa justru memilih sarung. Setidaknya aku bukanlah orang yang suka menaruh pernak-pernik barang tersebar di meja ataupun kamar kecuali photo, jadi lupakan souvenir dan cindera mata berupa pajangan. Makanan? Kurasa oleh-oleh ini tidak memorable. Jadi kembali sarunglah yang paling tepat. Disimpan mudah, awet, cukup berharga membalutku saat solat dan cukup hangat memelukku saat menemaniku tidur. Satu penghargaan lebih yang aku tawarkan dan usahakan pada yang bersuka rela memberikan keikhlasannya padaku.

Di lemariku tersimpan berbelas sarung dari usaha membeli sendiri, special pemberian seseorang hingga gratisan parcel dan semacamnya. Mulai dari sarung Bali, Palembang, Makasar, Kalimantan, Madura hingga sarung pasaran macam Gajah Duduk, Cap Mangga, Wadimor, Atlas dan beberapa yang kulupa. Jelasnya aku bukanlah kolektor karena beberapa sarung kadang harus kurelakan saat diminta. Sebagian kutaruh di tas kerja, tas tenis, mobil dan beberapa lemari di rumah Jakarta dan Jogja. Alasannya cukup sederhana. Aku yang suka kemana-mana pakai celana pendek ini tak kelabakan kalo tiba waktu sholat.

Beberapa sarung sengaja aku pertahankan karena mempunyai makna yang terselip. Sarung Bali yang telah pudar pradanya adalah salah satunya. Sarung ini berwarna hijau yang sebenarnya jelas bukan warna kebangsaanku, namun sarung ini bersamaku sejak aku TK dan selalu bersama hingga perjalanan ini. Wajar bila dia yang paling berharga. Lainnya ada beberapa sarung warna putih. Dan sejak beberapa orang tahu aku suka warna orange beberapa pemberian tak jauh dari warna ini termasuk juga untuk warna sarung.

Awal ramadhan kemarin aku keluarkan semua sarung yang masih terdapat di lemariku. Di cuci dan kembali di setrika rapi. Nyatanya aku baru sadar terdapat beberapa sarung yang belum keluar dari kotaknya. Belum sempat aku pakai. Salah satunya sehelai sarung dari Pekan Baru dengan warna baur biru dan kuning semarak dipadu songket serta sulam benang emas ukuran besar. Sarung ini terbungkus kotak berlapis kain songket serupa warna kuning menyala. Indah sekali. Satu sarung yang tak mungkin kupakai sehari-hari apalagi sekedar teman tidur.

Beberapa hari sempat kupikir kapan aku punya waktu yang tepat untuk memakai sarung yang tergolong ”berat” ini. Pikiranku tersimpul pada satu peristiwa sakral. PERNIKAHANKU!. Akh ... bisa jadi ya, tapi bisa jadi tidak. Tentunya aku tak ingin terlihat seperti UNYIL di hari spesial itu!

posted by Be Samyono @ 10/11/2006 01:34:00 PM -

6 Comments:

Blogger Nahria Medina Marzuki said...

Kl di pernikahan adat bugis, setelah ijab kabul...pengantin pria dan wanita didudukkan di tempat tidur mereka lalu disarungkan dgn 7 lapis sarung (yg emang khusus utk pernikahan adat Bugis) lalu ketujuh sarung itu dijahitkan dgn benang emas..

Artinya agar pengantin tdk pernah berpisah dan akur...

1:05 PM  
Blogger IndraPr said...

Tergantung adatnya Sam. Untuk adat tertentu, kadang sarung diperlukan... :)

Jadi, kapan nih? :) :)

3:51 PM  
Anonymous Anonymous said...

dulu wkt akad nikah, suamiku pake sarung, diluar celana panjang sih..krn pake baju taluk balango (melayu style lah).
simple tuh pakaiannya, boleh ditiru deh buat hari H!

10:50 AM  
Blogger unai said...

Wah mau nikah pake sarung? bukannya yang sarungan itu buat yang baru selese disunat mas? heheh *kabur

3:17 PM  
Blogger mamat ! said...

wah banyak banget sarungnya .....

Bener kata Unai, yang pake sarung itu bukannya yang sunat yah. He he he he

4:33 PM  
Blogger imgar said...

sarung..? aku pernah ke pabrik sarung di bandung. asyik juga..ratusan motif-nya..pasti bikin bingung kalo harus milih..

10:25 PM  

Post a Comment

<< Home