Panggung Srimulat 2

Thursday, December 16, 2004

By: Sam 16/12/04

Kuputuskan meninggalkan mobil dan sopirku dengan naik taksi. Aku tentu tak mau jamuran menunggu ketidak pastian. Aku masih ingat uang parkir dimobil hanya tersisa 5 ribu. Bisa jadi kalau terlalu lama dia tak akan cukup membayar. Ach kenapa masih aku pikirkan nasibnya. Cukup sudah aku terbeban dengan beratnya alat-alat tulis kantor yang kubeli dan perjuanganku mendapatkan taksi bagus setelah ditelantarkan sopirku, sementara customer di kantor telah beberapa kali meng-sms minta ketemu.
Kupilih tempat duduk tepat dibelakang sopir taksi, menghindari posisi pintu kiri belakang. Bukan rahasia lagi kalau area ini digunakan sopir taksi untuk toilet daruratnya.
Aku sebutkan tujuanku dan sopir menggangguk mengerti. Ach mungkin tiduran sejenak akan mendinginkan otakku yang panas kejengkelan.
”Belanjanya banyak sekali pak”
”He-eh” Jawabku malas
”Sering ke mangga dua ya pak”
“He’eh”
Rupanya jawaban singkatku tak menyurutkan sopir taxi ini untuk diam, dari cerita pembangunan kawasan Mangga Dua, politik hingga keruwetan Jakarta meluncur tak henti. Akupun makin terkantuk-kantuk dan setengah terpaksa menghargai informasi yang masuk telingaku.
“Bagaimana tak macet Pak bila mobil makin murah harganya …” Katanya lebih lanjut. “Perubahan sepertinya mendesak untuk dilakukan ya Pak, Kita butuh pemimpin yang tanggap, dan mengerti akan perubahan itu”
“Perubahan apa pak?” Tanyaku asal.
“Ya perubahan, perubahan dari miskin jadi makmur, dari bodoh jadi pinter, dari macet seperti ini jadi lancar, dari …..busyet !!!!!!”
Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiinnnnnnnnnn …………………………
Mobil secara reflek direm menghindari sepeda motor yang menyalip secara zigzag ditengah kemacetan dengan kecepatan tinggi. Jantungkupun seakan ikut berhenti saking kagetnya.
“Pakai mata dong…!!!” Sopir taxi itu kembali mengumpat, mengeluarkan kepalanya dari kaca jendela yang dibukanya. “Nah Pak apa nggak makin kacau bila ada orang ugalan-ugalan macam itu”.
Aku tak bereaksi karena berusaha untuk menguasai keterkejutanku.
“Orang kok gak pakai otak…” Gerutunya menjadi.
……………………………..
Suasana jadi hening beberapa saat.
Mobilpun kembali cekatan mencari celah untuk maju. Klaksopun makin riuh terdengar begitu traffic light menyala hijau sementara jalur belum kosong. Serta merta sopir tancap gas begitu deretan mobil depan mulai jalan.
“Tak keburu” batinku berkata setalah melihat di depan traffic light mulai berubah kuning…dan merah.
Namun taxi tetap kencang memburu.
Dan ….
Stuck ….. kami terkunci di tengah perempatan. Klaksonpun mulai nyaring mengkomentari keberadaan kami.
Aku lemas !!!
Rupanya dalam diri-diri kita, perubahan itu hanya slogan. Mimpi besar tanpa ada usaha. Diri kita hanya mau bersandar pada berubahan tanpa mau sejenak bercermin pada diri kita dan menjadikan diri kita sebagai pemimpin perubahan itu sendiri. Bahkan untuk hal yang sesederhana sekalipun …berdisiplin misalnya.
Suara klakson makin memekak.
Yang kutahu suara riuh ini bukan tepuk tangan penonton adeganku di panggung srimulat yang konyol ini. Aku tak perlu berbangga akan hal itu.

posted by kinanthi sophia ambalika @ 12/16/2004 11:14:00 AM -

2 Comments:

Blogger .:nien:. said...

Nice story!
Kapan neh blajar menghias blog na hehehehe ...

7:40 PM  
Anonymous OBAT TRADISIONAL MATA MINUS DAN SILINDER said...

good

1:45 PM  

Post a Comment

<< Home