Membahagiakan Orang lain

Friday, December 10, 2004

By: NN
SEORANG gadis bertanya pada ibunya: ''Bu, bagaimana cara membahagiakan orang?'' Jawab ibunya, ''Nanti ibu ceritakan. Sekarang kamu harus melakukan sesuatu untuk ibu dulu. Kamu lihat Kakek di kursi roda sana?'' Gadis itu menjawab: ''Ya.'' ''Dekati dan tanyakan bagaimana penyakit asmanya hari ini,'' kata si ibu.

Ia dekati kakeknya yang tengah berjemur, lalu bertanya: ''Kakek, bagaimana penyakit asma Kakek hari ini?'' Si kakek menjawab dengan wajah kesakitan: ''Sedikit memburuk. Apalagi hujan deras yang turun semalamam. Kakek jadi sulit tidur dan napas semakin sesak.''

Keluhan itu diceritakan pada ibunya. Lalu ia kembali menagih cara membahagiakan orang. ''Sebentar, sayang. Sekarang dekati Kakek lagi, dan tanyakan apa hal yang paling lucu yang pernah kamu lakukan ketika kamu kecil dulu,'' ujar ibunya.Ia kembali ke kakeknya, dan minta diceritakan kisah paling lucu yang dialaminya, dulu. ''Oh,'' ujar kakeknya sambil tersenyum. ''Kakek pernah terpingkal-pingkal ketika kamu bermain dengan teman-temanmu di malam Natal. Kamu menumpahkan isi bedak di seluruh penjuru rumah dan menganggap itu salju. Karena kamu menganggapnya salju, kakek tidak perlu membersihkannya.''

Setelah itu, si gadis menemui ibunya lagi. ''Ibu dengar apa yang dikatakan kakek?'' tanyanya. ''Ya,'' ibunya menyahut. ''Kamu telah membuat kakek bahagia hanya dengan cara mengubah sudut pandang. Ya, satu kalimat saja darimu dapat membuatnya bahagia,'' si ibu melanjutkan.

Kisah di atas ditulis R.H. Wiwoho dalam buku Reframing. Kunci hidup bahagia 24 jam sehari. Reframing adalah upaya untuk membingkai ulang sebuah kejadian, dengan mengubah sudut pandang. Orang sering menyebutnya berpikir positif. Petik manfaatnya, ambil hikmahnya.

Maka, sesuatu yang negatif bisa tampak bermanfaat dan membahagiakan. Istri yang cerewet, misalnya, tentu ada sisi positif yang bisa dipetik. Sebab, menurut riset, kecerewetan itu membuat anak-anaknya cenderung punya kosakata lebih kaya dan variatif. Keras kepala itu, ''Sesuatu yang bisa menyelamatkan kehidupannya kelak. Bayangkan, betapa berharganya pelajaran Anda bila pada suatu saat anak gadis Anda diajak kencan pria yang bermaksud jelek. Dia akan menolak satu kali, 10, atau 1.000 kali dengan mengatakan 'tidak'. Karena dia keras kepala, sekali bilang 'tidak' akan tetap tidak selamanya,'' ujar si terapis.

Bum! Bankir itu tersentak. Seketika ia ''mengubah'' sudut pandang. Si anak sendiri tidak berubah. Dunia tidak berubah, tapi persepsi kita yang berubah. Walhasil, senangkah Anda punya anak keras kepala? Tentu saja senang, kalau konteksnya dia mempertahankan religiusitas, nilai- nilai moralitas, dan harga diri.

Memang, ada sisi rasional dan ada sisi spiritual. Ini kisah seorang ustad tentang seorang prajurit yang mengeluh bergaji kecil, sementara keluarganya menuntut sejahtera. Tapi ia tak sudi dijuluki ''batalyon 701'' alias datang pukul 07.00 untuk apel, setelah itu kosong karena ngobyek, dan pukul satu siang kembali untuk apel pulang.


Tuntutan ini diperparah oleh putra si prajurit yang minta dibelikan motor. Si ustad yang juga tentara itu menyarankan agar si prajurit mengolah saja lahan kosong di belakang asrama. ''Hasilnya bisa untuk kamu,'' katanya.

Oke. Kebun itu ditanami dengan semangka. Tiap hari disirami dan dirawat. Celakanya, begitu semangka mau dipetik, sekelompok babi hutan mengacak-acak. Ratusan buah semangka dedel-duel. Prajurit itu lemas, mau nangis. Cobaan hidup tiada habis. Sepertinya, Tuhan tidak merestui. Mau membahagiakan anak saja, kok, susah!

Berminggu-minggu ia membangun harapan, musnah semalaman oleh babi hutan. Menghadapi ''gugatan'' itu, si ustad melihat dari sini lain. Kegagalan panennya itu bukan bentuk kemurkaan Allah. ''Ini justru cinta Allah pada keluarga Bapak. Mahal mana, semangka atau anak Bapak,'' tanya ustad. Anak SLTP semata wayang itu tentu lebih disayangi.

''Seandainya buah semangka itu jadi dipanen, dan hasilnya dibelikan motor, apa tidak malah membuat repot? Motor ini pasti dipakai kebut- kebutan bersama teman-temannya,'' kata si ustad. Motor itu bisa mencelakainya. Mulut bapak dan anak itu seakan terkunci. Gugatannya pada Allah jadi cair.

Hidup ini memang pilihan. Bahagia atau sengsara juga pilihan. Namun rasanya lebih sreg bila bukan hanya disikapi dari sisi rasio, juga spiritual yang melibatkan nurani. Insya Allah menuai berkah.

posted by Be Samyono @ 12/10/2004 07:51:00 AM -

0 Comments:

Post a Comment

<< Home